GP Ansor Sulut Kecam Ceramah Rhoma Irama

Rhoma Irama menangis saat diperiksa PanwasluRhoma Irama menangis saat diperiksa Panwaslu


Manado-
Ceramah penyanyi Dangdut Rhoma Irama yang menyulut persoalan SARA dalam masa pemilukada DKI Jakarta menuai berbagai kecaman. Bahkan, Ketua Gerakan Pemuda Ansor Sulut, Benny Ramdhany, angkat bicara.

Ramdhany mengatakan, kini publik tahu apa watak asli Rhoma. “Dia sangat sektarian, anti keberagaman, dan anti demokrasi,”sergah salah satu anggota Komisi IV Dewan Sulut pada wartawan, Selasa (07/08).

Menurutnya, selama ini publik terkecoh dengan lagu-lagu Rhoma Irama yang sebelumnya mencerminkan pluralisme, keberagaman, kemajemukan dan kebhinekaan. Adalah lagu berjudul '135 Juta' yang dibuat Rhoma pada 1977. Dalam lagu itu Rhoma menyatakan bahwa Indonesia adalah negeri majemuk yang terdiri dari banyak suku dan budaya. Meski banyak perbedaan, dalam lagu itu mengajarkan untuk tidak saling menghina karena satu bangsa dan satu bahasa.

“Bayangkan, bahkan di rumah Tuhan berani melakukan penghinaan yang justru hasil ciptaan Tuhan yang harus diakui,”semburnya.

Padahal katanya, semua agama menerima perbedaan, hal tersebut fitrah dan diakui Tuhan. Ramdhany kemudian menyayangkan sikap Rhoma yang menyelewengkan makna keberagaman dan demokrasi hanya untuk kepentingan politik.

Diketahui, Rhoma Irama dalam ceramahnya saat sholat taraweh di masjid Al –Isra Tanjung Duren Jakarta Barat pada Minggu (29/07) lalu, mengandung unsur SARA karena menyudutkan pasangan Jokowi-Ahok. Atas ceramahnya itu, anggota Panwaslu DKI Jakarta, Muhammad Jufri pun menyatakan Rhoma diduga melanggar tiga ketentuan kampanye. Pertama, soal dugaan menghasut SARA, lalu kampanye di tempat ibadah dan kampanye di luar jadwal.

Rhoma, akhirnya memenuhi panggilan Panwaslu pada Senin ((06/08). Bila Rhoma terbukti melakukan pelangaran tersebut, ia akan dihukum pidana selama 3 bulan hingga 18 bulan, dengan denda Rp 16 juta. Hukuman itu sesuai dengan Pasal 118 ayat 2 Undang Undang Pemilu. Panwaslu diberikan waktu sedikitnya 14 hari untuk menuntaskan kasus tuduhan kampanye hitam berbau SARA, hingga selanjutnya diteruskan ke pihak kepolisian untuk dilakukan penjeratan pidana. (Tim/sulutonline).

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.