Pulau Bangka “Memanas”Warga Nyaris Saling Bunuh

Kericuhan saat penurunan alat bor milik MMP juga melibatkan ibu -ibu Pulau Bangka yang menolak kehadiran perusahaan tambang biji besiKericuhan saat penurunan alat bor milik MMP juga melibatkan ibu -ibu Pulau Bangka yang menolak kehadiran perusahaan tambang biji besi

Pulau Bangka-Dua kubu warga desa Kahuku Pulau Bangka, Kabupaten Minut, nyaris saling bunuh menyusul terjadi pro-kontra penurunan peralatan bor tambang besi milik PT Mikgro Metal Perdana (MMP), Senin (30/09) sore.

Dua kubu yang bertikai adalah mereka yang pro perusahaan dan yang menolak adanya pertambangan di pulau dengan luas 4.700 Hektar tersebut.

Mereka, masing-masing mempersenjatai diri dengan, senjata tajam seperti parang, golok, pisau dan juga bambu runcing serta katapel. Memanasnya situasi saat penurunan alat pembor milik perusahaan MMP, membuat aparat kepolisian Likupang Minahasa Utara, sulit mengatasi keadaan.

“Kami hanya menjalankan perintah untuk mengamankan. Mereka terlihat sangat nekat,”kata Kapolsek Likupang AKP Jeferson Batewa.

Dari kubu yang menolak menyatakan, mereka tidak ingin pulau yang mereka diami sejak turun temurun itu rusak karena kehadiran tambang biji besi yang akan mengeksploitasi isi perut pulau Bangka.

"Kami harus mempertahankan pulau ini, karena leluhur kami sudah ada di pulau ini sejak awal. Kami tidak ingin pulau ini direbut,”teriak Berthi Maeskatulung (29) warga Kahuku .”Kami akan mempertahankan pulau ini, sampai titik darah penghabisan,”tandasnya.

Pun mereka mengancam akan membakar peralatan mesin bor milik MMP jika dipaksakan turun. Aparat kepolisian akhirnya melakukan negosiasi, namun tidak berhasil. Dua kubu yang bersitegang saling berhadapan memegang senjata tajam dari berbagai jenis, akhirnya baku hantam. Beruntung aparat polisi bisa mengendalikan keadaan.

Kendati tidak adanya jatuh korban, namun aksi baku lempar batu tidak bisa dihindari, bahkan wartawan yang meliput juga dilempari dan diusir oleh kubu yang setuju kehadiran perusahaan tambang besi di Pulau Bangka.

Pulau Bangka terus menjadi perhatian beberapa bulan terakhir sejak investor asal China mendapat ijin untuk melakukan penambangan biji besi. Bahkan vokalis Group Band Slank, Kaka, membuat single khusus menolak kehadiran tambang di pulau Bangka. Pun Petisi penolakan pertambangan di pulau Bangka lewat online, sudah ditandatangani ribuan orang.

Sementara itu, pemerhati masalah pemerintahan, sosial dan lingkungan, Joppie Worek, dalam kesempatan terpisah menilai insiden yang terjadi di Pulau Bangka, adalah warning bagi penguasa.

“Seharusnya, dimusyawarakan dulu dengan warga yang menghuni pulau Bangka kemudian dikeluarkan ijin. Inilah akibatnya jika hak rakyat tersumbat. Padahal, pulau Bangka dan sekitarnya menyimpan kekayaan alam yang harus dilestarikan kemudian diwariskan ke anak cucu kita nanti,”sesalnya. (Tim/sulutonline).

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options