40 Persen Lebih Jajanan Anak Sekolah Tidak Layak Konsumsi

Mokodongan saat berbicara dalam acara Advokasi pencegahan penyalahgunaan bahan berbahaya pada pangan jajanan anak sekolahMokodongan saat berbicara dalam acara Advokasi pencegahan penyalahgunaan bahan berbahaya pada pangan jajanan anak sekolah

Sekdaprov: Jajanan Anak Sekolah Harus Bebas Bahan Berbahaya

Manado-Berdasarkan pengawasan yang dilakukan oleh BPOM menunjukkan bahwa sekitar 40-44% jajanan anak sekolah tidak memenuh syarat sehingga kondisi ini menjadi sangat serius karena dapat memperburuk status gizi anak akibat terganggunya asupan gizi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dari anak sekolah.

“Tingkat keamanan dari Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) masih rendah dan banyak ditemui di lingkungan sekolah dan secara umum dikonsumsi oleh sebagian besar anak sekolah kita,”jelas Sekdaprov Sulut Ir SR Mokodongan, saat membuka advokasi pencegahan penyalahgunaan bahan berbahaya pada pangan jajanan anak sekolah, Rabu (27/08/2014) di Swissbell Hotel Manado.

Ditegaskan Mokodongan keamanan pangan jajanan anak sekolah sekecil apapun cemaran yang ada harus menjadi perhatian kita bersama apalagi masih banyaknya peredaran produk pangan jajanan yang tidak memenuhi syarat kesehatan yang ditemukan di lapangan sehingga memerlukan komitmen semua pemangku kepentingan yang terkait dengan tupoksi masing-masing dan melakukan tindakan pengawasan secara terstruktur dan terpadu sehingga dapat mencegah penyalahgunaan dan penyaluran bahan berbahaya secara ilegal.

Karenanya, Mokodongan mengharapkan kepada semua pihak terkait dengan pengawasan jajanan makanan, baik aparatur pemerintahan, BPOM maupun advokasi pencegahan penyalahgunaan bahan berbahaya pada jajanan anak dan pihak swasta serta masyarakat untuk bersama –sama berkomitmen agar jajanan anak bebas dari cemaran dan bahan-bahan berbahaya.

Kepala balai besar BPOM Manado Dra Susan Gracia Arpan, Apt, MSi, mengatakan kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pangan jajanan anak sekolah yang aman, bermutu dan bergizi dengan memberdayakan stakeholder terkait di daerah dan sebagai nara sumber berasal dari pusat Drs Mutofa, Apt, M.Kes dan Ibu Christian Hardayani, SH, MML. (tim/sulutonline).