Pengusaha Philipina Lirik Komoditi Sulut

Foto bersama usai pertemuan Wagub Kansil dengan rombongan Konjen PhilipinaFoto bersama usai pertemuan Wagub Kansil dengan rombongan Konjen Philipina

Manado-Terbukanya kembali penerbangan langsung Manado-Davao Philipina, berdampak terbukanya peluang bisnis kedua daerah. Kesempatan ini, langsung ditindak lanjuti para pengusaha Philipina. Bahkan Konsul Jenderal (Konjen) Philipina Jose DR Burgos melakukan pertemuan dengan Wakil Gubernur Sulut Dr Djouhari Kansil MPd, Senin (01/09/2014) sore.

Para pengusaha Philipin yang di bawah Burgos yaitu Vicente T Lao Presiden dan CEO Maharlika Perusahaan yang bergerak di bidang Agro, Marine Ventures Corp bersama Isteri selaku Chairman dan CEO Mt Sinai Mining Exploration dan Development Corporation, Boni Pal Fernandez BF Industries,Inc perusahaan yang bergerak dibidang manufacturer of activated carbon & Charcoal Briguets serta Anelyn G Binancilan Senior Economic Development Specialist.

Menurut Burgos pengusaha Pilipina berterima kasih kepada pemerintah Provinsi Sulut yang kembali membuka jalur penerbagan langsung Manado-Davao, termasuk pelayaran dengan kapal Roro dari Bitung, Sangihe langsung menuju Davao.

Kesempatan ini dimanfaatkan pengusaha Philipina untuk kembali membangun kerjasama dengan pengusaha Sulut melirik komoditi unggulan daerah ini untuk dibawah kenegaranya.

Dalam pertemuan itu terungkap komoditi yang dilirik oleh pengusaha Philipina antara lain rumah adat, Kelapa dan turunannya, Cengkih, Pala, Jagung kemudian ikan dan turunannya. Bahkan Vicente T Lao dan Fernandes menanyakan berapa ton Jagung di Sulut setiap kali panen serta tata cara pengolahan tanah (lahan) di daerah ini.

Menjawab hal itu Wagub menyebutkan, produksi Jagung Sulut setiap panen baru mencapai 85 ribu ton/hektar, setahun tiga kali panen. Walaupun produksi Jagung kita masih kecil untuk kebutuhan lokal. Tapi Sulut bisa menjadi pusat pengolahan komoditi tersebut untuk diekspor keluar negeri.

Dikatakan Kansil, lewat program revitalisasi pertanian, pemerintah daerah bekerjasama dengan perbankan terus mendorong warga untuk terus menanam sampai memanfaatkan setiap lahan tidur yang ada untuk di tanam komoditi Jagung dan tanaman pertanian lainnya.

Terkait dengan pengelolaan tanah, Wagub mengatakan, Sulut berbeda dengan daerah lain. Di Sulut yang punya tanah adalah keluarga atau personal, termasuk tidak ada pembatasan lahan. Nah, pengusaha Philipina bisa melakukan hal ini, namun harus ada kerjasama (Memorandum Of Understanding) terlebih dahulu. Begitu pula dengan rumah adat. Di Sulut rumah adat terbesar ada di Woloan Tomohon, selain itu di Minahasa, Minsel dan Mitra.

Kansil juga mengatakan, pelabuhan Bitung saat ini telah menjadi penampung komoditir ekspor keluar negeri. Semua komoditi ekspor tersebut dikirim keluar negeri melalui kapal kontiner melalui pelabuhan Bitung, dan ini sudah dilakukan ke Malaysia begitu sebaliknya.

Selain itu Bitung juga telah disiapkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Global HUP.”Pemprov Sulut akan membantu pengusaha Philipinan yang akan menanamkan modalnya di daerah ini. Yang penting dapat melaksanakannya dengan baik,”terang Wagub.(tim/sulutonline).