Bersama Dubes China, Gubernur SHS Tinjau Lokasi KEK

Dubes China saat berkunjung ke BitungDubes China saat berkunjung ke Bitung


Bitung
-Babak baru dalam proses pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Sulut. Menyusul, Senin (22/09/2014), Gubernur DR Sinyo Harry Sarundajang (SHS) bersama Duta Besar China Xie Feng untuk Indonesia meninjau langsung lokasi pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Pantai Tanjung Merah Kota Bitung.

SHS sendiri saat menemani Dubes China, ikut didampingi Walikota Drs Hanny Sondakh dan Wakil Walikota Bitung Drs Max Lomban, dan beberapa orang pengusaha dari Negara China, serta sejumlah pejabat eselon 2 Pemprov diantaranya Kadis PU Ir J E. Kenap, Kadis Perindag Olvie Atteng, Kaban BKPM Ir Joy Korah dan Kepala Bappeda Provinsi Sulawesi Utara Ir Roy Roring.

Dalam kesempatan itu, rombongan juga diajak SHS meninjau lokasi pelelangan ikan di Aertembaga dan Lokasi Pelabuhan Petikemas serta Lokasi Pelabuhan Penumpang di Bitung

SHS mengatakan, sebagai Negara dengan PDRB terbesar di dunia, para pengusaha China mempunyai potensi yang sangat besar untuk menanamkan modal di Indonesia. Oleh karena itu, kunjungan Dubes China dan para pengusahanya adalah suatu kesempatan yang berharga dan perlu dimanfaatkan dalam rangka memperkenalkan segala potensi yang ada di Sulawesi Utara.

Dubes China sendiri menyatakan kekagumannya dan kesiapannya untuk membantu Provinsi Sulawesi Utara dan akan memperkenalkan potensi di Sulut serta akan mengundang para pengusaha di negaranya untuk menanamkan investasi di daerah ini.
Dubes China saat berbincang dengan Gubernur SHS
Sebagaimana diketahui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung terletak pada ALKI 3 yang dilayari oleh kapal-kapal kontainer dan tanker kapasitas besar. Lokasi strategis sebagai pusat pertumbuhan distribusi barang dan menunjang penyediaan logistik di Kawasan Timur Indonesia serta memiliki akses Internasional, khususnya ke BIMP-EAGA, AIDA, Asia Timur dan Pasifik.

Berdekatan dengan pengembangan Pelabuhan Hub Internasional atau Global Hub Bitung yang memilliki pelabuhan alam dengan kedalaman 22-30m. Lokasi KEK berpotensi untuk diperluas mencapai >2.000ha. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung fokus pada industri pengolahan dan logistik ramah lingkungan.

Sektor Bisnis: Industri prosesing perikanan (pemrosesan ikan segar, pengalengan), industri pengolahan ekspor, industri farmasi (pemrosesan bahan baku obat-obatan), dan industri logistik (pengepakan, jasa pemeriksaan, jasa penyiapan peti kemas, pergudangan, dan rekayasa).

Berkaitan dengan infrastruktur, maka direncanakan Pelabuhan Global Hub Bitung dengan kapasitas 500.000 TEUs/tahun dan akan di tingkatkan menjadi 1.000.000 TEUs/tahun dengan kedalaman laut > 22m. Jarak lokasi pelabuhan Global Hub Bitung dengan KEK sekitar 5 km. Berada pada ruas jalan nasional Girian - Kema yang terhubung ke jalan nasional Manado - Bitung dan Jalan Tol Manado - Bitung. Rencana ke depan kedua lokasi tersebut akan terintegrasi. Bandara Internasional Sam Ratulangi dengan panjang landasan 2.650 m dan diperpanjang menjadi 3000m, jarak dengan lokasi KEK sekitar 39km.

Suplai listrik ke lokasi KEK berasal dari GI Tanjung Merah yang terintegrasi dengan jaringan interkoneksi Gorontalo - Sulawesi Utara dengan daya terpasang sebesar 150 MW. Bagian terbesar menggunakan sumber listrik terbarukan (Geothermal dan Hydro).
Sumber air baku dari mata air Tendeki yang memiliki kapasitas 40L/detik jaraknya sekitar 7,2 km dan sungai Pinokalan yang masih memiliki ketersediaan kapasitas 100L/detik dengan jarak 4km, ke depan sumber air baku di suplai dari Bendungan Kuwil - Sawangan.

Pembangunan jaringan fibre optic untuk mendukung telekomunikasi di KEK sedang dibangun dan dalam waktu dekat siap digunakan. (tim/sulutonline).