Keluarga Tumbelaka Walkout Sarundajang

Keluarga Tumbelaka Walkout pada sidang paripurna istimewa Dewan SulutKeluarga Tumbelaka Walkout pada sidang paripurna istimewa Dewan Sulut

Ibu Neeltje Zus Tumbelaka Ticoalu: Kami Sengaja Dilupakan

Manado-Ini tentunya harus menjadi perhatian serius para pemangku kebijakan. Menyusul, keluarga mantan gubernur Sulut pertama, Letkol Frits Johanes Tumbelaka, melakukan aksi protes dengan melakukan walkout dalam sidang paripurna istimewa Dewan Sulut yang dipimpin ketua dewan sementara, Steven Kandouw di gedung Grand Kawanua Internasional Convention (GKIC), Manado, pada Selasa (23/09/2014).

Aksi protes walkout itu sendiri berlangsung saat gubernur Sulut DR Sinyo Harry Sarundajang (SHS) akan menyampaikan pidato dalam rangka peringatan HUT Emas Sulut 2014. Alhasil, aksi ini menjadi perhatian para pemburu berita, baik media cetak, dan elektronik.

Kepada wartawan, Ibu Neeltje Zus Ticoalu, janda FJ Tumbelaka, mengaku Pemprov Sulut sengaja melupakan perjuangan suaminya dengan turunnya UU nomor 13 tahun 1964 lalu. Dimana melalui perjuangan bersama para tokoh agama dan masyarakat serta mantan Gubernur Tumbelaka, sehingga lahirlah Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara sebagai pemisahan dari Provinsi Sulawesi Tengah.

“Kami sengaja dilupakan,”ujar dengan nada bergetar menahan tangis.

Ibu Zus sendiri dipapah kedua putranya masing-masing Drs Yahya Tumbelaka dan Taufik Tumbelaka saat aksi walkout dalam sidang peringatan HUT Emas Sulut 2014 tersebut.

Pun kata Taufik, dalam tayangan slide kalaidoskop oleh panitia saat sidang berlangsung, ayahnya (FJ Tumbelaka, red) hanya diberi durasi tidak sampai sedetik. Sedangkan mantan gubernur lainnya diberi durasi sangat panjang.”Seorang pemimpin seharusnya mampu menghargai para pendahulunya, tapi apa yang terjadi saat ini membuat keluarga kami kecewa. Saya protes ! tolong sampaikan protes kami ini pada gubernur,”sergahnya dengan suara bergetar sambil menahan tangis.

Sebelumnya, saat upacara peringatan HUT Emas Sulut 2014, pagi di halaman kantor gubernur, keluarga Tumbelaka juga melakukan aksi serupa saat gubernur akan menandatangani beberapa prasasti diantaranya, prasati gedung Graha Gubernuran Bumi Beringin Manado dengan nama mantan gubernur Sulut Mayjen Purn HV Worang. Pun dalam sidang paripurna, SHS memberikan penghargaan kepada beberapa orang tokoh masyarakat yang dinilai telah memberikan konstribusi positif bagi rakyat Sulut.

“Almarhum FJ Tumbelaka, dihargai di Provinsi Sulteng, Palu, dengan menamakan pantai mereka yang terkenal dengan nama pantai Tumbelaka. Sayang di Sulut sendiri dilupakan, “sesal Taufik.

Gubernur SHS sendiri saat dikonfirmasi terkait aksi walkout keluarga Tumbelaka, terlihat heran. “Saya tidak tahu apa penyebabnya. Tapi saya hormati, itu hak demokrasi,”ujarnya.

Saat didesak terkait pemberian penghargaan berupa penamaan atas sesuatu (jalan atau gedung, red) pada jasa Tumbelaka, menurut SHS tetap akan diagendakan. Namun kali ini, baru HV Worang. “Ya, harus secara bertahap. Kami juga tetap membantu para janda mantan gubernur. Ke depan, memang harus ada Peraturan Daerah (Perda) mengenai hal itu. Saya menghormati keluarga mantan gubernur Tumbelaka,”katanya.(tim/sulutonline).