Terkait Penggunaan Bom dan Sianida di Laut

Wakil Gubernur Sulut Dr Djouhari KansilWakil Gubernur Sulut Dr Djouhari Kansil

Wagub Ingatkan Instansi Terkait Lakukan Penertiban

Manado-Wakil Gubernur (Wagub) Sulut DR Djouhari Kansil, akhirnya angkat bicara menyusul maraknya penggunaan bom dan sianida dalam penangkapan ikan di laut. Kepada instansi terkait, diharapkan segera lakukan penertiban.

“Iya, instansi terkait seperti Dinas Kelauatan dan Perikanan (DKP), Dinas Perhubungan (Dishub), Badan Lingkungan Hidup (BLH), dan Disperindag, harus melalui penertiban. Harus turun lapangan, sebelumnya ada korban akibat mengkonsumsi ikan beracun,”tegas Wagub Kansil pada sejumlah wartawan, Kamis (11/12/2014).

Khusus untuk Disperindag Sulut, Wagub mendesak agar segera dilakukan pendataan berapa banyak sianida masuk ke Sulut dan di distribusikan kemana saja, untuk mengetahui alur siapa yang menjual atau menggunakan sianida untuk pengeboman ikan.

Sementara Kadisperindag Sulut Ir Jenny Karouw saat dikonfirmasi terpisah menyebutkan, bahwa Sianida masuk dalam kategori Bahan Beracun Berbahaya (B3) yang tidak dijual secara bebas, dan hanya distributor tertentu yang diberikan ijin menjual.

“Penggunaan sianida hanya untuk pertambangan. Jika ada yang menggunakannya untuk pengeboman ikan, maka ini yang harus kami selidiki secepatnya. Saya akan segera turun tim untuk melakukan penyelidikan,”tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulut Ir Ronald Sorongan mengingatkan agar masyarakat harus lebih teliti dalam membeli ikan, karena disinyalir ikan yang ditangkap dengan menggunakan bom dan sianida telah diperdagangkan di Sulut.

Ciri-ciri ikan yang terkena bom bisa dilihat dari pecahnya perut ikan, dagingnya menjadi lunak atau hancur, kulitnya rusak dan sisiknya terkelupas pada beberapa bagian, mata memutih, sebagian merah bengkak karena pembuluh darahnya pecah, atau hilang salah satu matanya.

Kerusakan atau perubahan pada komoditi laut yang ditangkap dengan menggunakan bahan kimia berbahaya serta mematikan, sianida adalah bagian di bawah tutup insang tampak membiru (gejala ini tampak sangat jelas dan perlahan menghilang, pada hari ke-5). Hal lain yang nampak adalah kerusakan pada ujung ekor dan kulit bagian perut. (tim/sulutonline)