MEWASPADAI TERULANGNYA BANJIR BESAR MANADO

Pitres SombowadilePitres Sombowadile

Oleh:
Pitres Sombowadile
(Pengajar Oseanografi di Institut Teknologi Minaesa, Tomohon)

MUSIM penghujan sudah datang. Curah hujan sudah meningkat jauh. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) secara resmi telah merilis peta perkiraan Hari Tanpa Hujan Indonesia, yang memperlihatkan jumlah hari hujan yang semakin sering untuk sebagian besar wilayah Indonesia, dengan sekadar perkecualian di wilayah-wilayah NTT dan NTB.

Di Kota Manado datangnya musim hujan kali ini disambut orang dengan perasaan was-was. Tepatnya, musim penghujan kini, yang di awalnya saja sudah diisi oleh dua badai tropis dari Filipina dan Laut Cina Selatan, membangkitkan trauma tertentu. Soalnya, banyak warga kota ini yang belum lupa sebuah banjir dahsyat menerjang mereka belum lama ini. Tepatnya pada awal tahun 2014 lalu. Bencana itu dikenal sebagai peristiwa Banjir 15 Januari 2014 atau ringkasnya di dalam tulisan ini disebut saja sebagai bencana B15/1/14.

Dalam musim hujan kini yang sontak terbit dalam benak warga Kota Manado yang tinggal di sekitar, sungai adalah: apakah peristiwa B15/1/14 lalu itu akan terulang? Pertanyaan ini bukan pertanyaan verbal biasa, tetapi di dalamnya ada muatan emotif tertentu, yaitu kekuatiran atau malah ketakutan. Pertanyaan itu jelas memang muncul di atas latar traumatik tertentu terhadap apa yang dialami bersama pada bencana B15/1/14 lalu itu.

Pertanyaan itu akan dibahas dalam tulisan ini. Tulisan ini perlu ditegaskan hakikinya sekadar mencoba melakukan penelaahan saja atas unsur-unsur yang membentuk bencana lalu itu. Kemudian mencermati: Apakah faktor-faktor pembangkit bencana B15/1/14 lalu terulang di tahun 2015 kini?
Sebuah Rumah Beton hanyut di sungai akibat banjir 15 Januari 2014

Hakikat Bencana B15/1/14

Di awal tahun lalu, yaitu beberapa hari setelah kejadian B15/1/14 saya menulis di sebuah harian lokal dan disebarkan lewat internet. Di dalam tulisan itu, saya memaparkan bedahan saya atas penyebab bencana B15/1/14 lalu itu. Bedahan itu dipicu oleh gagasan yang sontak muncul setelah saya mempelajari daerah-daerah yang terkena banjir di peta Manado (lihat peta daerah terdampak B15/1/14 berikut).
Peta Daerah Terdampak B15 01 2014 bahan diperoleh dari postingan Bode Talumewo

Nyata dalam gambar peta ini, ternyata daerah-daerah yang terkena dampak secara faktual adalah daerah yang dekat sungai-sungai yang mengalir di wilayah Kota Manado. Karena itu, saya sepintas menyimpulkan bencana yang terjadi tahun lalu itu mestinya terkait dengan massa air yang mengalir via sungai-sungai di kota Manado yang galibnya menuju ke pantai atau laut. Massa air yang demikian besar itu, akibat dari curah hujan ranking keempat tertinggi yang pernah terjadi di Manado dan sekitarnya itu mengalir deras menuruni sungai-sungai dari dataran tinggi ke dataran rendah (Kota Manado) dengan tujuan menuju ‘’terminal’’ di laut Manado.

Dengan melihat peta daerah dampak bencana kala itu, saya menyimpulkan massa air besar itulah yang berubah menjadi banjir. Karena massa air yang mestinya masuk ke laut itu tertahan secara masif di muara sungai dan akhirnya meluber tumpah ruah baik ke kiri maupun dan kanan badan sungai. Itulah analisis saya ihwal hakikat banjir besar yang terjadi pada peristiwa B15/1 lalu itu.

Sebagai pembelajar oseanografi (ilmu laut) saya tahu pasti yang dapat menahan aliran air itu adalah (a). pasang tinggi di pantai/laut, (b). keombakan yang besar di pesisir di muara sungai dan (c). arus pasang surut yang besar ke arah pantai atau muara sungai. Saya tertantang untuk mengungkapnya kala itu.

Saya memeriksa besaran-besaran pasang surut di pantai (laut) Kota Manado yang tersedia kala itu. Ketika itulah saya mendapatkan bahwa tanggal 15 Januari 2014 adalah saat bulan purnama di langit. Ini adalah saat terjadinya pasang besar. Saya pun memeriksa angka-angka pasang surut di internet (pasanglaut.com) dan saya mendapatkan ternyata pada tanggal 15 dan 16 Januari 2014 memang pasang laut di pantai Manado mencapai nilai yang tinggi (meski bukan yang tertinggi) di bulan itu.

Pada hari naas itu air laut meninggi pada pasang kedua pada siang sejak jam 11.25 hingga mencapai maksimum pada jam 18.00. Tinggi pasang yang terjadi adalah mencapai 2,2 meter (dari nilai maksimum tinggi pasang yang sebesar 2,5 m untuk Laut Manado). Koefisien pasang surut tinggi (beda tinggi antara tinggi air pada saat pasang dan pada saat surut) pada waktu itu adalah 77.

Angka-angka pasang surut itu memperkuat keyakinan saya bahwa, bencana B15/1/14 itu terbangkitkan karena adanya massa air yang turun dari berbagai tempat dataran tinggi via sungai-sungai di Kota Manado namun tidak serta merta bisa masuk ke laut, karena adanya hadangan massa air yang lebih besar lagi dari laut akibat dari fenomena pasang surut.

Begitulah secara sederhana analisis saya atas detil faktor pembangkit bencana B15/1/14. Kini di tahun 2015, apakah bencana sejenis akan potensial terjadi juga? Itu pertanyaan dasar dari tulisan ini, dan itulah yang hendak dibahas detil di sini.

Pasang Laut Januari 2015

Untuk menjawab pertanyaan sederhana itu paling kurang ada dua variabel yang mesti diperiksa. Satunya adalah variabel di angkasa dan variabel berikut adalah yang di laut/ pantai Manado. Variabel di langit adalah variabel cuaca atau variabel meteorologis/ klimatologis, secara khusus adalah aspek curah hujannya. Variabel ini jelas terpenuhi kini di awal tahun 2015, yaitu curah hujan yang meningkat sejak November 2014 lalu dan akan terus berlangsung di Januari 2015 ini.

Apakah curah hujannya akan lebih besar dari yang sudah pernah terjadi. Katakan dibanding dengan curah hujan 13, 14, 15 Januari 2014 seperti pada tabel berikut? Hal ini belum secara akurat dapat diprediksi.
 Sumber BMKG
Yang jelas di awal tahun 2015 ini pihak BMKG nyata memberikan informasi akan terjadinya jumlah hari hujan yang lebih banyak, yang artinya besaran curah hujan juga akan meningkat. Berikut diberikan peta jumlah hari tidak hujan di wilayah Sulawesi. Yang menunjukkan jumlah hari tidak berhujan yang hanya kecil atau pendek.
Hari tanpa hujan Sulut Januari 2015

Peta itu memperlihatkan bahwa jumlah hari tanpa hujan di wilayah ujung kepala Utara pulau Sulawesi atau di wilayah Provinsi Sulawesi Utara (yaitu di Manado dan daerah sekitarnya) termasuk dalam klasifikasi ‘’sangat pendek’’ oleh BMKG. Ini artinya, dibanding waktu-waktu yang lain, dalam bulan Januari 2015 akan sangat banyak hari berhujan dan dengan demikian potensial akan membawa kenaikan jumlah curah hujan dan air yang masuk sungai.

Nah dengan melihat peta itu, pantaslah untuk diwaspadai bahwa curah hujan besar akan terjadi dan akumulasinya bisa saja menjadi banjir di sana-sini secara khusus di Manado. Tetapi apakah banjir itu sejenis yang terjadi pada 15 januari 2014 di Kota Manado? Jawabannya jelas tidak. Karena, bencana B15/1/14 terjadi tidaklah semata karena curah hujan yang tinggi, tetapi limpahan hujan yang masuk sungai yang tertahan oleh hadangan air pasang besar untuk masuk ke laut/pantai Manado.

Untuk menjawab pertanyaan utama ihwal pengulangan bencana B15/1/14,, kita harus periksa faktor-faktor pembangkit pasang surut air laut di pantai Manado. Secara khusus secara sederhana yang mesti dilihat adalah pergerakan bulan. Dalam kalender bulan yang menyatakan bahwa bulan purnama akan terjadi pada tanggal 5 Januari 2015, sedang bulan matinya terjadi pada tanggal 20 Januari 2015. Dua hari ini dalam ilmu laut merupakan dua hari patokan terjadinya kenaikan muka air laut tertinggi dalam satu periode bulan. Jelas besaran air pasang akan meninggi menjelang hari itu dan mencapai puncaknya sehari sesudahnya.

Saya pun mencari data-data pasang surut di wilayah Kota Manado di internet (pasanglaut.com) dan hasilnya menunjukkan kewaspadaan kenaikan air laut di pantai Manado pada sekitar tanggal 5 Januari 2015, namun yang paling tinggi justru akan tercapai sekitar tanggal 20 Januari 2015. Untuk mendapat gambaran dari pergerakan massa air laut di pantai Manado itu, berikut sekadar saya berikan rangkuman saya atas data pasang surut di titik pelabuhan Manado untuk tanggal 3,4,5,6,7 dan tanggal 18,19,20,21,dan 22 Januari 2015. Saya sengaja memilih dua hari patokan saat purnama dan bulan mati sebagai yang paling harus diwaspadai.

Tabel pasang surut hasil olahan Pitres Sombowadile

Jelaslah dari tabel yang dibuat di atas, bahwa pasang laut tertinggi akan terjadi pada tanggal 22 Januari 2015. Kemudian rangkingnya adalah pasang pada tanggal 21, 20 Januari 2013, jika yang dilihat adalah koefisien pasang surutnya. Tetapi jika dilihat dari naiknya muka air maka yang tertinggi, itu akan tercapai pada tanggal 22 (2.5 meter), kemudian menyusul tanggal 20 dan 21 (2.4 meter) dan pada tanggal 5,6,7 dan 19 Januari 2015 (2,3 meter). Bandingkan ketinggiannya dengan tinggi pasang saat terjadinya peristiwa B15/1/14 yang kala itu hanya 2,2 meter saja.

Apakah pada tanggal-tanggal pasang tertinggi itupun pasti akan terjadi banjir. Jawabannya, tidak otomatis, karena pada kasus bulan mati pada tanggal 29 Januari 2014 atau dua minggu sesudah peristiwa B15/1/14, yaitu pada saat bulan mati dan tercatat pasang air tertinggi bulan Januari 2014 ternyata banjir tidak terjadi seperti sebelumnya. Banjir khas B15/1/14 yang dirisaukan itu tergantung dari dari adanya massa air (yang otomatis tergantung pada curah hujan yang tinggi) yang mengalir masuk ke laut via sungai-sungai sebagai variabel pertama, sedang variabel lain adalah pasang surut di laut Manado.

Jika terjadi curah hujan tinggi seperti halnya yang terjadi pada tanggal 15 Januari 2014 lalu, atau katakan terjadi curah hujan besar yang masuk klasifikasi pada 10 besar curah hujan ranking tertinggi Manado, dan itu terjadi pada saat tanggal-tanggal pasang laut tinggi itu, maka banjir khas B15/1/14 daat terbangkitlah dan mesti diwaspadai.

Dengan melihat kenyataan di Manado, bahwa hujan tidak terjadi lebat tanggal 1,2 dan 3 Januari 2015 kini, yaitu jelang saat purnama, maka kemungkinannya kecil terjadi bencana semacam B15/1/14 saat purnama pertama tahun 2015 kini. Karena itu kewaspadaan mesti difokuskan pada naiknya muka air pada saat bulan mati, yaitu sejak tanggal 19 hingga 22 Januari 2015 mendatang. Dengan curah hujan yang tidak sebesar 15/1/14 saja banjir besar dapat terbangkitkan.

Kewaspadaan harus dilakukan secara rasional karena itu dan bukan traumatik. Sekali lagi, jika terjadi hujan dengan klasifikasi curah hujan 10 besar ranking curah hujan terbesar di Manado dan sekitar atau curah hujan yang lebih kecil, maka bencana B15/1/14 sangat berpeluang terbangkitkan kembali pada hari-hari pasang tertinggi di atas apalagi jika terjadi pada tanggal 22 Januari 2015. Apalagi jika pada tanggal itu terjadi siklon tropis tertentu di Filipina yang anginnya bisa memukul tebing-tebing yang jenuh air di Minahasa, serta terjadi fakta ombak besar yang memukul masuk ke dalam muara sungai-sungai di Kota Manado.

Akhirnya, tulisan ini sekadar dalam rangka membangun kesadaran rasional demi untuk sebuah kewaspadaan banjir. Secara khusus bagi walikota janganlah keluar daerah pada waktu itu, karena belajar dari pengalaman dua kali bencana banjir terjadi saat pak walikota sedang keluar daerah. Kewaspadaan rasional mesti lebih apik dapat dilakukan, mengantisipasi banjir pada saat semua faktor pembangkit bencana B15/1/14 potensial terulang. Jika itu terjadi, mungkin dampaknya lebih parah, karena banjir dapat terjadi pada saat langit gelap, yaitu banjir terbangkitkan pada waktu-waktu di malam hari. Ini berbeda dengan peristiwa B15/1/14 yang terbangkitkan pada siang hari dan respons bisa dilakukan lebih baik.

Kewaspadaan yang sama masih harus tetap dipelihara pada bulan Februari, yaitu sekitar tanggal 3 Februari, saat purnama di bulan itu dan tanggal 18 Februari saat bulan mati atau bulan baru. Dalam data BMKG pada kasus lokus Manado dan sekitarnya, bulan Februari masih ditandai oleh jumlah hari hujan dan curah hujan yang tinggi. Dalam 10 peristiwa curah hujan tertinggi yang pernah di catat curah hujan pada tanggal 17 Februari 2013 (setahun sebelum peristiwa B15/1/14 adalah yang besar nilainya.

Demikian sekadar catatan dan analisis ihwal fakta-fakta alam yang mesti diantisipasi. Sebagai pembelajar alam, tentu saya berdoa keras bahwa peristiwa bencana B15/1/14 lalu tidak terulang. Tetapi dengan berbekal ilmu sebagai berkat Tuhan jua, kita semua mesti bekerja untuk waspada. Semoga memang tidak terjadi.(***)