Sulut Peringati Peristiwa Merah Putih

SHS saat peringatan 69 tahun peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di SulutSHS saat peringatan 69 tahun peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Sulut

Manado-Peristiwa Merah Putih 14 Pebruari 1946 yang dikenal sebagai peristiwa heroik di Sulut melawan penjajah Belanda, di peringati Pemerintah dan masyarakat Sulut melalui Temu Wicara/Resepsi Kejuangan di Gedung Graha Bumi Beringin Manado, Jumat (13/02/2015).

Dalam kesempatan itu, Gubernur Sulut Dr Sinyo Harry Sarundajang (SHS) mengatakan, peristiwa Merah Putih 14 Pebruari 1946, sebagai salah satu wujud dari sikap patriotisme dan nasionalisme putra/putri terbaik Sulut, sekaligus merupakan bagian tak terpisahkan dari aksi patriotik dalam mempertahankan kemerdekaan pasca proklamasi 17 Agustus 1945 dan keutuhan NKRI.

Dikisahkan SHS, setelah kemerdekaan Indonesia di proklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, sebagian wilayah Indonesia Timur (Intim) masih dikuasai penjajah. Namun pada Tanggal 14 Pebruari 1946, tepatnya jam 1 tengah malam para pejuang yang dipimpin oleh Komandan Taulu dan Wuisan memulaikan aksi penyergapan dan menangkap semua tentara penjajah di Manado, mulai dari Komandan Garnisun Kapten Blom, Dan Korps-VII Carlier, CPM dan seluruhnya sehingga berhasil menguasai wilayah Manado.
Temu wicara peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946
Kaum Nasionalis yang ditawan seperti Nani Wartabone, OH Pantouw, Geda Dauhan termasuk Pimpinan Pemuda BPNI Jhon Rahasia dan Chris Ponto semuanya di bebaskan. Pada pagi harinya Komandan Frans Bisman dan Freddy Lumanu berangkat dengan dua peleton ke markas besar KNIEL di Tomohon dan menangkap komandan Kniel De Vries dan Residen NICA Koomans De Ruyter bersamaan dengan penangkapan Letnan Van Emdem, komandan kompi di girian Tonsea oleh Kumaunang. Keesokan harinya di hadapan komandan Kniel De Vries, Komandan Taulu dan Wuisan menyatakan, “Kami bersama pemuda sedang memperjuangan kemerdekaan Indonesia, dan ini kami pertahankan”.

“Sejak saat itu, bendera Merah Putih berkibar di provinsi Sulut. Radio Australia dan San Fransisco dan BBC London serta harian Merdeka Jakarta menyiarkan tentang “Pemberontakan besar di Sulawesi Utara”, bahkan Presiden pertama “Bung Karno” memaklumkan, bahwa 14 Pebruari adalah hari Sulawesi Utara, dan sejarah perjuangan Indonesia mensyukurinya”, jelas SHS sembari menyebutkan, peristiwa ini tentunya menjadi bagian penting dalam kehidupan kita dimasa kini dan dimasa depan dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun SHS mengingatkan, perjuangan kita masih panjang. Karena itu semangat perjuangan harus terus kita kobarkan, karena kita memiliki tanggungjawab yang sama untuk membawa bangsa, negara dan daerah ini mengarungi samudera pembangunan menuju kemajuan bersama. Sebagai komitmen perjuangan kita bersama sehingga mampu menghantar Sulut menyambut kebangkitan baru sebagai salah satu pintu gerbang Indonesia di kawasan Asia Pasifik menuju masyarakat Bumi Nyiur Melambai, Sulut yang semakin berbudaya, berdaya saing. (tim/sulutonline).