Seriusi Kasus Singkil Aceh, Penjabat Gubernur Rapat Bersama Presidium BKSAUA

Penjabat Gubernur Sulut DR Soni Sumarsono saat press conference terkait masalah Singkil AcehPenjabat Gubernur Sulut DR Soni Sumarsono saat press conference terkait masalah Singkil Aceh

Sumarsono: Rakyat Sulut Jangan Terprovokasi, "Torang Samua Basudara"

Manado-Penjabat Gubernur Sulut DR Soni Sumarsono MDM, kembali mengimbau warga Sulawesi Utara agar tidak terprovokasi dengan tindakan tidak terpuji yang dilakukan oknum-oknum tak bertanggungjawab, terkait pembakaran rumah ibadah di Singkil Aceh.

“Saya harap rakyat Sulut jangan terprovokasi dengan kejadian ini, tapi marilah kita jaga persatuan dan kesatuan yang ada selama ini, yaitu rukun dan damai, karena torang samua basudara,” tegas Sumarsono saat press conference usai pertemuan dengan Badan Kerja Sama Antar Umat Beragama (BKSAUA) Sulut.

Sumarsono mengatakan, semua agama melarang adanya perusakan rumah ibadah. Karena negara sangat menghargai pluralisme yang ada.“Sebagai seorang Muslim dan juga Penjabat Gubernur Sulut, kami sangat menyesalkan hal itu terjadi. Kiranya masyarakat Sulut tidak terprovokasi,”ingat Sumarsono yang juga sebagai Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri ini.
Sumarsono bersama Presidium BKSAUA Sulut
Karena itu jebolan Doktor Universitas Gajah Mada ini berharap, apa yang terjadi di Singkil Aceh maupun Tolikara Papua, jangan sampai terjadi di Bumi Nyiur Melambai yang kita cintai ini.

Provinsi Sulawesi Utara menurut Sumarsono, merupakan salah satu daerah teraman di Indonesia, bahkan kerukunan hidup antar umat beragama di sini tak perlu diragukan lagi.”Itu terlihat ketika saya menginjakan kakinya di tanah Toar Lumimuut ini, sesama pemeluk agama satu sama lain saling membantu,”katanya seraya mencontohkan kehidupan warga Molas, pada hari raya Qurban baru lalu, umat Kristen membantu umat Islam untuk menyembeli hewan Qurban.

”Daerah lain tidak pernah kita lihat seperti disini. Demikian pula dengan tempat-tempat ibadah juga saling berdekatan, ini merupakan simbol warga Sulut menjunjung tinggi pluralisme,” tandas Sumarsono.

"Saya bersama dengan 5 tokoh agama di Sulawesi Utara merasa prihatin akan kejadian-kejadian yang terjadi selama ini baik pembakaran gereja maupun pembakaran masjid. Itu memprihatinkan ditengah-tengah situasi kondisi kita lebih khususnya di wilayah Sulut yang hidup rukun dan damai,"sesal Sumarsono.

Sementara hasil pertemuan Sumarsono bersama BKSAUA yang terdiri dari 5 tokoh agama di Sulut, masing-masing; Pdt DR RAD Siwu, KH Abdul Wahab Abd Gafur Lc, Ps Christian Santie MSc, Drs Ridwan Sofian, DR Drs I Dewa Ketut Anom MSi, langsung ditindaklanjuti dengan membawa langsung hasil kesepakatan berupa seruan ke pemerintah pusat di Jakarta.
Presidium BKSAUA saat press conference terkait kasus Singkil Aceh
Berikut 5 point seruan BKSAUA Sulut yang di teruskan ke Kemendagri RI di Jakarta;
1. Agar terus memantapkan stabilitas dengan membina dan memelihara tiga kerukunan hidup beragama yaitu kerukunan interen beragama, kerukunan umat beragama dengan pemerintah.

2. Tingkatkan terus kewaspadaan isu-isu negatif yang dilontarkan oleh oknum-oknum atau kelompok yang ingin memecah belah umat beragama di Bumi Nyiur Melambai yang sama-sama kita cintai..

3. Jalin kerjasama antar umat beragama untuk mengatasi setiap hal yang dapat memicu disintegrasi bangsa Indonesia di daerah ini.

4. Tingkatkan jalinan kerjasama antara pimpinan umat beragama dengan pemerintah untuk mengatisipasi setiap gejolak sosial yang dapat melemahkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dalam satu keterikatan Bhineka Tunggal Ika.

5. Agar segenap umat beragama di Sulut memanjatkan doa khusus di tempat ibadah masing-masing untuk keselamatan bangsa dan negara khususnya Sulawesi Utara dari rembesan peristiwa yang terjadi di Aceh Singkil Provinsi Nangro Aceh Darrusalam.(tim/sulutonline).