Istri Kapten Kapal Yang Disendera Abu Shayaf, Curhat ke Gubernur

ODSK tak kuasa melihat tangis ibuODSK tak kuasa melihat tangis ibu Femmy Wowor istri Julian Philip kapten kapal pandu Brahma 12 yang disandera kelompok Abu Shayaf

Olly Dondokambey Santuni Keluarga Julian Philip

Tondano-Gubernur Sulut Olly Dondokambey SE dan Wakil Gubernur Drs Steven Kandouw SE (ODSK), serta unsur Forkompimda Sulut dan Bupati -Wakil Bupati Minahasa terharu saat mengunjungi rumah keluarga Julian Philip, korban penyanderaan oleh Abu Sayyaf di perairan Philipina, Rabu (30/3/2016) di Sasaran Tondano Utara Kabupaten Minahasa.

Saat berada dirumah semi permanen belum diplester, ibu Femmy Wowor (45) wanita beranak satu yang merupakan istri dari Julian Philip kapten Kapal pandu Brahma 12, terlihat kaget bercampur haru dikunjungi para petinggi Bumi Nyiur Melambai.

Sambil menitikan airmata dan memeluk foto Julian Philip berukuran besar, Ibu Femmy menceritakan betapa keluarga mereka sangat rindu dan mengkuatirkan keselamatan suaminya yang merupakan tulang punggung keluarga.
 Ibu Femmy Wowor menangis dan memeluk gubernur saat diberikan bantuan
“Saya hanya bisa berharap, agar pemerintah RI bisa memulangkan suami saya beserta rekan-rekannya yang disandera,”isak ibu Femmy terus terisak menitikan airmata.

Gubernur Sulut sendiri saat menghibur ibu Femmy mengatakan, hasil kunjungan dan percakapan ini akan diteruskan ke pemerintah pusat untuk ditindaklanjuti. Sesaat sebelum pamit pulang, Gubernur Olly Dondokambey memberikan santunan berupa uang tunai pada Ibu Femmy.

"Saya akan ke Jakarta menemui Menteri luar Negeri untuk mengetahui perkembangannya. Kami akan berupaya yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini, karena salah satu korban adalah warga Sulawesi Utara,''ujar Dondokambey seraya menyebutkan, dirinya terus berkoordinasi dengan menteri luar negeri Republik Indonesia serta berbagai pihak terkait di Indonesia dan Philipina, termasuk di antaranya langsung berkomunikasi dengan Menlu Philipina.
Ibu Femmy Wowor berpose bersama foto suaminya
Yang pasti sebut Gubernur Olly Dondokambey pemerintah Indonesia akan terus bekerja keras dan berkoordinasi untuk menyelamatkan 10 WNI yang menjadi sandera kelompok Abu Sayyaf tersebut.

Diketahui 10 ABK WNI disandera kelompok tersebut diketahui saat seseorang yang mengaku anggota kelompok ekstremis Abu Sayyaf menelepon pihak perusahaan pemilik kapal dan meminta uang tebusan.

Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso menjelaskan, pihaknya telah berkomunikasi secara intens dengan pihak otoritas Philipina terkait pembajakan sebuah kapal pandu penarik ponton bermuatan batubara dari Indonesia di sekitar perairan Philipina.

Seperti dikutip Kompas, sebanyak 10 awak kapal pandu Brahma 12 beserta muatan batubara milik perusahaan tambang dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, disandera kelompok teroris Philipina Abu Sayyaf sejak Sabtu (26/03/2016) pekan lalu.

Sutiyoso mengatakan, kapal pandu itu kini dalam keadaan kosong dan ditinggal begitu saja di lepas pantai Kepulauan Sulu, Philipina. Sebanyak 10 awak kapal dan seluruh muatan batubara dibawa penyandera ke tempat persembunyian mereka di salah satu pulau di sekitar Kepulauan Sulu.
 Kapal Tug Boat Brahma 12 yang diduga dibajak Kelompok Milisi Abu Sayyaf (Foto Ist)
”Mereka meminta tebusan 50 juta peso (sekitar Rp 14,3 miliar) untuk pembebasan 10 sandera itu. Kami terus berkoordinasi dengan pihak keamanan Philipina untuk menentukan langkah lebih lanjut,” ujar Sutiyoso di Jakarta, Senin (28/03/2016).

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sebelumnya mengaku, pihaknya sudah mendapatkan kabar tentang penyanderaan tersebut. Tanpa berkomentar lebih jauh, Retno menyebutkan bahwa Kemenlu telah mendalami informasi tersebut."Sudah (dapat informasi). Semua sedang didalami," kata Retno.

Sementara itu, Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi mengatakan, saat ini sudah ada patroli unsur keamanan laut di perairan sekitar Ambalat.

Militer Philipina sudah memasukkan kelompok Abu Sayyaf sebagai teroris lokal yang kerap menculik dan menyandera orang asing untuk mendapatkan tebusan. Kelompok ini juga terkait dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

Pada September 2015, kelompok ini menculik warga Kanada, Norwegia, dan Philipina dari sebuah resor pantai kelas atas di Philipina selatan. Mereka menuntut tebusan 21 juta dollar AS untuk setiap sandera.(tim/sulutonline).