Pengamat: ROR Abaikan Tugas Utama Penjabat Walikota

Pelantikan 19 pejabat eselon 3 dan 4 Pemkot Manado pada Kamis 28 April 2016Pelantikan 19 pejabat eselon 3 dan 4 Pemkot Manado pada Kamis 28 April 2016

Selama 5 Bulan Sudah 3 Kali Lakukan Rolling Pejabat

Manado- Sepak terjang Penjabat Walikota Manado Ir Royke O Roring (ROR), terus menuai sorotan. Menyusul, selang 5 bulan menjabat sudah 3 kali melakukan rolling dan mutasi pejabat di Pemerintah Kota Manado.

Padahal sesuai agenda Pemprov Sulut, jabatan ROR segera akan berakhir pada minggu ke dua bulan Mei 2016 mendatang, dan kembali bertugas sebagai Kepala Bappeda Sulut, berikut jadwal pelantikan Walikota – Wakil Walikota Manado terpilih periode 2016-2021, DR Ir GS Vicky Lumentut- Mor D Bastiaan SE.

Diketahui, Kamis (28/04/2016) sore, Pemkot Manado diwakili Asisten I Drs Joshua Pangkerego, menggelar pelantikan 19 pejabat Eselon 3 dan 4, di ruang Serbaguna Kantor Walikota Manado.

Tindakan kurang populis ini kemudian disorot tajam sejumlah pengamat politik dan pemerintahan daerah.“Kan tugas utama Penjabat Walikota itu mengisi kekosongan pemerintahan serta mempersiapkan calon pemimpin Kota Manado. ROR terlalu sibuk melakukan mutasi sementara tugas penting menyangkut kepentingan warga Kota Manado diabaikan,”sebut Widdy Rorimpandey SPt MPd kepada wartawan.

Akademisi UNIMA ini pun menyindir Penjabat Walikota yang kurang begitu peka terhadap masalah sosial kemasyarakatan. Bahkan lebih memilih keluar daerah dari pada memikirkan kepentingan rakyat kecil. “Saya contohkan penyaluran dana bantuan bencana mulai dikeluhkan warga. Padahal Walikota sebelumnya telah berusaha mendatangkan bantuan dari pusat. Dan itupun anggarannya tidak sedikit. Relokasi tanah dipandu sampai saat ini katanya belum siap, padahal waktu penggunaan dana bencana banjir diberikan batas oleh Pemerintah Pusat. Saya sangsi dengan jabatannya sebagai Bappeda Provinsi, harusnya banyak mengetahui tentang hal ini,” sindir tokoh Pemuda tersebut.

Rorimpandey kemudian menyentil komitmen ROR dalam mendukung program ODSK dalam pengentasan kemiskinan perlu dipertanyakan. “Sedangkan persoalan korban banjir diabaikan apalagi mempersiapkan pelantikan. Harus sadar diri sebetulnya tugas yang diamanatkan sebagai Penjabat. Karena bukan Walikota pilihan rakyat,” sindirnya lagi.

Terpisah, pengamat politik dan pemerintahan, yang juga peneliti Komite Pemilih Indonesia (TePI) Dr Jerry Massie PhD, menilai apa yang dilakukan ROR selama menjabat sebagai penjabat Walikota Manado, tidak elegan dan tidak elok.

” Tindakan seperti ini keliru, karena statusnya hanya penjabat, dan jabatannya tidak panjang. Seharusnya, urus saja pemerintahan di masa transisi, dan meninggalkan program yang baik kepada untuk warga Kota Manado. Bisa saja detik-detik jelang pelantikan Walikota dan Wakil Walikota terpilih kembali akan melakukan rolling dan mutasi jabatan,”nilai Massie pada wartawan.

Massie kemudian mencontohkan, di beberapa kabupaten kota lain, tidak ada terjadi roling pejabat dari penjabat Walikota maupun Bupati, seperti di Bitung, Tomohon, Minut, Minsel.”Dengan melakukan roling berkali-kali, Roring pada akhirnya menciptakan imej kurang bagus di masyarakat termasuk terhadap sesama koleganya di Pemprov Sulut. Jadi harusnya Roring lebih bijak lagi Atau lebih elok jika di akhir jabatannya, fokus saja mengurus acara pelantikan Walikota dan Wakil Walikota terpilih,”sarannya.

Terkait rolling sore tadi, ROR diketahui tidak hadir dan memilih keluar daerah. (tim/sulutonline).