Warning ! Sulut Darurat Ehabond dan Obat Terlarang !

Kepala BNN Sulut Kombes Pol Sumirat Dwiyanto saat memberikan keterangan pada sejumlah wartawanKepala BNN Sulut Kombes Pol Sumirat Dwiyanto saat memberikan keterangan pada sejumlah wartawan

Manado-Ini harus menjadi perhatian para orang tua murid maupun pemerintah serta seluruh warga Sulut. Menyusul, kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulut Kombes Pol. Sumirat Dwiyanto, menyebutkan, Sulut saat ini masuk kondisi darurat Ehabond dan obat –obatan yang disalahgunakan.

Karenanya, ungkap Sumirat dalam pernyataan persnya di salah satu rumah kopi di Manado, Rabu (25/05/2016) sore, pihaknya telah menyurati Gubernur Sulut Olly Dondokambey SE untuk bisa mengeluarkan instruksi kepada jajaranya hingga Kabupaten Kota untuk mendorong melakukan tindakan gerakan pemantauan dan himbauan terhadap peredaran Ehabond didaerah masing-masing.

"Termasuk bagi para pedagang agar tidak menjual bebas Ehabond kepada pembeli dibawah umur termasuk orang tua yang tidak jelas penggunaannya untuk apa,"terang Kepala BNN Sulut, Kombes Pol. Sumirat Dwiyanto.

Dirinya bersama tim BNN Sulut sebelumnya pada siang sudah melakukan rapat bersama yang dibuka oleh Sekertaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sulut Ir SR
Mokodongan di kantor gubernur dan dihadiri peserta dari Kabupaten Kota dan dinas terkait seperti, Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan, dan Balai POM.

"Dalam rapat tersebut telah dikeluarkan rekomendasi kepada Kabupaten Kota dan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) soal pengawasan terhadap beredarnya Ehabond dan obat-obatan, khususnya terhadap tingkatan anak,"terangnya.

Selain itu pihak BNN Sulut, juga akan melakukan penelitian terhadap peredaran dan beberapa kebutuhan pengunaan lem Ehabon bagi perusahan mebel pembuat Furniture, tas dan sepatu hingga obat-obatan umum bebas di Sulut.

"Jangan ada kelebihan kebutuhan pengguna di daerah, jangan hanya dibutuhkan 50 Ehabond tapi oleh perusahaan dikirimnya 100 lem. Nah itu yang harus diawasi. Jadi himbauan itu juga disampaikan lewat lembaga masjid, gereja dan wihara hingga peredaran atau penjualan bebas di kaki lima itu juga harus dipantau,"ujar Sumirat.

Dalam kesempatan itu, juga BNN Sulut membeber hingga saat ini sudah 2 orang anak remaja yang tewas akibat menghirup Lem Ehabond.”Ditaksir pengguna lem Ehabond di Sulut mencapai ribuan orang anak muda. Ini sudah sangat kritis dan membahayakan bagi kelangsungan generasi muda Sulut,”ingatnya. (tim/sulutonline).