Jelang Idul Fitri, GPII Sulut dan FPN Gelar Dialog Pemuda Lintas Agama

Foto bersama pimpinan Ormas (Foto Ist)Foto bersama pimpinan Ormas (Foto Ist)

Manado-Stabilitas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di Sulawesi Utara (Sulut) sudah menjadi tuntutan vital. Karenanya, pengurus Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Sulut bersama Forum Peduli Nusantara (FPN) menggelar Dialog Publik, Senin (27/06/2016).

Bertempat di Jalan Roda (Jarod), dialog menghadirkan pengurus Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Wilayah Sulut dan Pemuda Sinode GMIM selaku narasumber.

Menurut Amas Mahmud, koordinator FPN Sulut dalam sambutannya menyampaikan bahwa Dialog Publik dengan tema ”Partisipasi Pemuda Lintas Agama dalam Menjaga Stabilitas Kamtibmas di Sulut Jelang Idul Fitri 1437 Hijriah”, bermaksud melibatkan secara bersama-sama kaum muda lintas agama agar ikut merumuskan dan bersepakat untuk mengawal toleransi, persatuan dan kebersamaan di Sulut.

”Sekiranya Dialog Publik ini dapat melahirkan gagasan segar, dan kesepahaman tentang pentingnya kita secara kolektif menjaga kebersamaan, persatuan, dan mengedepankan toleransi jelang Idul Fitri 1437 Hijriah. Sehingga perayaan hari Raya Idul Fitri nantinya kita melaksanakan dengan khusu, tenang serta tanpa gangguan Kamtibmas, untuk itu kami melibatkan semua unsur pemuda dalam dialog ini,” ujar Amas yang juga jurnalis ini.

Selain itu, dalam sesi pemaparan materi sebagaimana disampaikan Hi Usran Manto, M.M, selaku Ketua DPW BKPRMI Sulut mengulas tentang pentingnya peran manusia sebagai pemimpin, yang memiliki tanggungjawab sosial. Terutama pemuda yang posisinya sangat strategis dalam menjalankan peran ditengah masyarakat.

”Saya mengawali ini dengan menyampaikan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi, sehingga tanggungjawab inilah mengharuskan setiap manusia memiliki amanah untuk menjaga alam ini dengan bersikap mendamaikan. Tidak berbuat kacau, apalagi kita pemuda yang memiliki dua potensi, yaitu bisa menjadi malaikat dan iblis. Untuk itu, pemuda harus mengeja dan mengejawantahkan nilai-nilai kemanusian, seperti saling menjaga dan melindunggi sesama, mempererat silarurahmi dan toleransi, inilah tugas kita pemuda,” tukas Usran.
Suasana dialog
Sementara itu, Fritsa Ruru, Anggota Komisi Pelayan Pemuda GMIM menyebutkan beberapa contoh kasus terkait konflik yang sering mengatasnamakan agama. Hal itu dinilainnya sangat sarat dengan kepentingan, karena semua agama mengajarkan kebaikan dan perdamaian, pihaknya sangat mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut dan ikut menjunjung kerukunan di daerah ini.

”Ada orang-orang tertentu yang sengaja membuat konflik yang mengatas namakan agama demi mengadu domba agama agama. Pemuda GMIM sangat menjunjung tinggi kerukukan umat beragama karena semua agama juga mengajarkan kita untuk tidak konflik, kita diajarkan untuk hidup damai dan cinta kasih. Bagi kami, kebanyakan konflik itu karena kebutulan konflik pribadi yang berbeda agama kemudian di besar-besarkan menjadi konflik agama, sehingga kondisi itulah yang patut dibenahi,” papar Fritsa.

Saat masuk pada segmen dialog, sejumlah pimpinan Ormas juga memberikan pendapat dan menyampaikan dengan gamblang terkait sebab konflik yang mengatasnamakan agama ternyata hanya kepentingan segelintir orang yang kemudian mengorbankan masyarakat.

Ikut memberikan komentar diantaranya, Hi Rivai Polli pengurus Muhammadiyah Sulut, Masri Ikoni, Ketua GPII Sulut Fahlil aktivis pemuda Sulut, Iswadi Amali Sekretaris Umum KNPI Sulut, Hery Anwar Sekjend LPK Khairah Ummah.

Bertindak selaku moderator Alwan Rikun, Ketua Gerakan Pemuda Mathlaul Anwar Sulut. Tak lupa juga yang hadir, Mudzzain Habibie, pengurus Pemuda Muhammadiyah Sulut, Djoko Sutrisno pengurus DPD KNPI Sulut, Madzhbullah Ali pengurus GPII Sulut, pengurus HMI cabang Manado, pengurus KNPI Sulut, Riyan Habibie, Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulut, Haz Algebra, Ketua Badan Koordinasi HMI Sulut-Gorontalo, dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya. (tim/sulutonline)