Guru Sulut Bisa Jadi Kepsek di Davao

Wagub Sulut didampingi Kadis Diknas Sulut saat menerima kunjungan Atase Pendidikan dan Sekolah Indonesia di Luar Negeri KemendikbudWagub Sulut didampingi Kadis Diknas Sulut saat menerima kunjungan Atase Pendidikan dan Sekolah Indonesia di Luar Negeri Kemendikbud

Manado-Ini kabar gembira bagi para tenaga pendidik (guru-guru) di Provinsi Sulut, karena bisa menjadi Kepala Sekolah (Kepsek) di Sekolah Indonesia di Davao City Philipina. Demikian terungkap saat pertemua Kepsek SMA Indonesia di Davao Agus saat diterima Wakil Gubernur Sulut Drs Steven Kandouw di ruang kerjanya Jumat baru lalu.

Didampingi Suprayogi dari Bagian Atase Pendidikan dan Sekolah Indonesia di Luar Negeri Kemendikbud, Kadis Diknas Sulut Asiano G Kawatu SE MSi dan Sekretaris Diknas Ch Sumampouw SH MEd, Kepsek Agus mengatakan tujuan kedatangan di Sulut selain untuk melakukan koordinasi dengan Kadis Diknas Sulut, tapi juga sekaligus melakukan sosialisasi keberadaan sekolah Indonesia di Davao kepada guru-guru di daerah ini.

Kepsek Agus menyebutkan, sekolah yang dikelolahnya mulai dari SD, SMP hinga SMA, serta ada sekitar 90 siswa dengan 24 tenaga pengajar dan sudah ada 3 tenaga pendidik yang berasal dari Sulut."Saya berkeinginan kedepan ada orang Sulut bisa memimpin sekolah Indonesia menjadi Kepsek disana, alasannya karena adanya kedekatan kultur dan budaya", terangnya sembari menyebutkan, siswa yang belajar disana merupakan anak-anak dari para nelayan dan petani orang Indonesia yang berasal dari Nusa Utara yang sudah menetap sekian lama di beberapa pulau yang berdekatan dengan Davao.

Sementara kendala-kendala yang dihadapi yaitu ekonomi dan bahasa karena para siswa ini, lebih menguasai bahasa Tagalok ketimbang bahasa Indonesia sendiri. Dia juga menyebutkan, saat ini sekolah Indonesia di luar negeri, selain di Philipina, juga ada di Mianmar dan Malaysia, para siswa tersebut selama mengikuti pendidikan semuanya tinggal di asrama.

Agus juga menambahkan, untuk menjadi Kepsek di Davao harus melalui proses seleksi secara nasional di Jakarta, syaratnya usia 50 Tahun dengan tuffel 550.

Wagub Sulut sendiri sangat merespon program ini, karena sejalan dengan program Nawacita yang di gulirkan Presiden Jokowi.Negara hadir untuk mencerdaskan anak bangsa yang bermukim di luar neger. Ini bagus, merupakan kesempatan yang baik bagi para tenaga pendidik kita di sulut, lebih khusus bagi guru-guru yang ada di tiga Kabupaten Kepulauan, seperti Sangihe, Talaud dan Sitaro karena dari segi kultur dan budaya mereka lebih memiliki hubungan emosional.

"Saya setuju jika ada orang Sulut bisa menjadi Kepsek disana, sedangkan terkait dengan biaya akan dimasukan lewat APBD Provinsi", tegas orang nomor dua di Sulut ini.

Senada dengan Wagub, Kadis Diknas Sulut Gemmy Kawatu langsung menindaklanjuti hal itu, pihaknya akan segera mensosialisasikan kepada para guru di Sulut,”Ini kesempatan emas bagi pendidik kita untuk bisa berkarier di luar negeri,”jelasnya.(tim/sulutonline).