Peringati HUT ke-3, FJPI-BP3A Gelar FGD Stop Kekerasan pada Perempuan dan Anak

FJPI-BP3A Gelar FGD Stop Kekerasan pada Perempuan dan Anak (Foto Ist)FJPI-BP3A Gelar FGD Stop Kekerasan pada Perempuan dan Anak (Foto Ist)

Manado- Menyusul tingkat kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (PA) terus meningkat, menjadi perhatian semua pihak. Tak heran, Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) terpanggil untuk ikut memberikan sumbangsih dalam menghentikan kekerasan PA di Sulut.

Alhasil, FJPI bersama Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (BP3A) Sulut, menggelar Forum Group Discussion (FGD) Penanganan Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak di Provinsi Sulut, di Kantor Gubernur, Senin (10/10/2016) sore.

Ketua FJPI Sulut, Jeane Rondonuwu mengatakan bahwa kegiatan tersebut selain merupakan rangkaian peringatan HUT ke-3 FJPI juga untuk membangun komitmen bersama pemerintah stop kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.

"Melihat kondisi ini maka diskusi bertajuk 'Dilema Penanganan Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak' maka akan mempertemukan seluruh mitra pemerhati pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak untuk terus berkomitmen dalam gerakan 'Stop Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak," ungkap Rondonuwu.

Ditambahkannya, FJPI Sulut berharap dampak acara ini akan memberikan motivasi baru untuk mensukseskan program '3 Ends' yaitu 'Mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak,' dengan mengakhiri tindak pidana perdagangan orang' dan 'Mengakhiri diskriminasi dan kesenjangan akses ekonomi terhadap perempuan.

Diketahui data terakhir kasus kekerasan terhadap PA sementara ditangani oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan sesuai laporan yang diterima BP3A Sulut mulai bulan Januari hingga September 2016 terdapat 108 kasus.

Dimana 75 kasus terjadi kepada anak dan terbagi 23 untuk anak laki-laki, 21 perempuan dan dewasa mencapai 33 kasus. Sementara itu, khusus kekerasan seksual kepada anak terdapat 33 kasus.

Kepala BP3A Sulut Ir Erny Tumundo mengungkapkan, secara tersistematik data yang diterbitkan dari Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (BP3A) Sulut merupakan data yang di Update dari Unit Perlindungan Perempuan Anak (UPPA) Kepolisian Daerah (Polda) dan Polres se-Sulut.

Dijelaskan, dalam kegiatan FGD yang diprakarsai Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sulut yang bekerjasama dengan BP3A itu, saat ini pihaknya dalam meminimalisir dan mengantisipasi terjadinya kekerasan terutama seksual kepada perempuan dan anak. Kegiatan itu berupa pelatihan dan penguasaan aplikasi data sistem online agar bisa terpantau laporan dari Kabupaten Kota dan bisa ditindak cepat.

Lanjutnya dilihat dari kinerja mitra kerja BP3A yakni Kepolisian dinilai cukup maksimal melaksanakan tugas dan tanggungjawab menangani kasus-kasus kekerasan perempuan dan anak (PA).

"Hanya saja ini dimintakan pemahaman bersama dengan awak media bahwa tugas mereka (Polisi) tidaklah gampang. Dalam penanganan salah satu kasus dan jika itu agak lambat, akhirnya semua mitra kerja di UPPA banyak dipindah tugaskan," ujar Erny, sembari berharap kedepan kiranya juga dalam hal pelaporan ke Kepolisian, para pelapor bisa langsung ke UPPA dan kalaupun harus melapor ke pos SPKT, kiranya dipos tersebut bisa ada petugas yang benar-benar peduli dan memahami persoalan kekerasan PA.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, dari unsur LSM/Pemerhati PA dan sejumlah siswi SMP serta para undangan sejumlah wartawan media cetak, online TV dan Radio.(tim/sulutonline)