Rotinsulu Ingatkan PT MSM/TTN Turut Jaga Kelestarian Hutan

tanan Sulut Ir Herry RotinsuluGeneral Manager dan Operasional Direktur PT MSM Terry Holohan saat menyerahkan berkas hasil survey pada Kepala Dinas Kehutanan Sulut Ir Herry Rotinsulu

Kawasan Hutan dan Pantai Minut Jadi Destinasi Wisata

Manado-Kepala Dinas Kehutanan Sulut Ir Herry Rotinsulu menyatakan apresiasinya atas hasil presentasi Hasil Survey Yaki (Macaca Nigra) dan Kelompok Satwa Mamalia lain di Hutan Lindung Tanjung Pulisan. Karenanya dia menegaskan agar perusahaan tambang yang beroperasi di kawasan hutan Toka Tindung Minut tersebut, harus mampu menjaga kelestarian hutan berikut mamalia yang hidup didalamnya.

Menurutnya, manusia dengan Micaca Nigra (Yaki) adalah sama-sama ciptaan Tuhan. Untuk itu, marilah kita menjaga kelestariannya. Jangan mengganggu mereka, sebab jika diganggu maka mereka juga akan mengganggu kita dengan masuk ke pemukiman. “Sejujurnya keberadaan Yaki di kawasan tersebut mulai punah. Saya berharap PT MSM/TTN turut menjaga dan melestarikan termasuk kawasan hutan lindungnya,”tegas Hero sebutan khas bagi Kadis Kehutanan Sulut seraya menghimbau MSM/TTN membantu pengembangan pariwisata di pantai Paal untuk membangun menara pengawas agar bisa mengontrol masyarakat yang lagi mandi.

“Jangan sudah ada yang tenggelam tapi kita tidak tahu,”ingatnya seraya menyebutkan, program gubernur Olly Dondokambey SE dan Wakil Gubernur Drs Steven Kandouw (ODSK) dalam kurun Lima tahun ke depan menjadikan kawasan Minahasa Utara sebagai salah satu destinasi di Sulut.
 Foto bersama usai presentasi Hasil Survey Yaki (Macaca Nigra) dan Kelompok Satwa Mamalia lain di Hutan Lindung Tanjung Pulisan
Hero menyebutkan, perusahaan tambang diharapkan mampu kelola 3 hal yakni kelola lingkungan yang baik, kelola skala produksi, dan mampu kelola sosial."Kita ketahui 3 aspek ini kalau dikelola dengan Niscaya usaha tambang akan berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat, bukan hanya perusahaan itu sendiri tapi memberikan manfaat untuk negara serta manfaat kepada masyarakat. Sulut sendiri ada 2 perusahaan kontrak karya yang besar diantaranya PT. MSM dan TTN," kata Rotinsulu.

Pemprov Sulut terang Hero, tentu mengapresiasi jika perusahaan tambang mengindahkannya. Apalagi jika dapat memberikan hal-hal berarti bagi masyarakat, seperti di sektor pendidikan, kesehatan dan infrastruktur,” kata Rotinsulu.

Dia menuturkan, berdasarkan Undang-Undang (UU) 23 Tahun 2016 menjelaskan jika hutan konservasi wewenangnya pemerintah pusat. Sementara, pembagian hutan lindung dan produksi diberikan kepada daerah, tetapi perizinannya dari pemerintah pusat.“Urusan kehutanan dan pertambangan ranahnya provinsi. Jadi, pihak kami berharap perusahaan tambang terlebih yang beroperasi di dekat wilayah hutan lindung untuk memperhatikan kelestarian alam, termasuk flora dan faunanya,” ujar Rontinsulu.
eneral Manager dan Operasional Direktur PT MSM Terry Holohan saat presentasi
Diketahui, pada Kamis (08/12/2016) PT. MSM- TTN menggelar Presentasi Hasil Survey Yaki (Macaca Nigra) dan Kelompok Satwa Mamalia lain di Hutan Lindung Tanjung Pulisan di aula kantor Dinas Kehutanan Provinsi Sulut. Presentasi Hasil Survey Yaki tersebut, dibuka oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulut Herry Rotinsulu.

Pihak penyelenggara Edi Permadi mengatakan presentasi ini akan membeberkan hasil survey yang dilaksanakan pada tanggal 6 sampai 26 Agustus di hutan tanjung Pulisan. Maksud diselenggarahkan acara ini, menurutnya, survey hasil 'Yaki" berasal dari kepedulian perusahan terhadap lingkungan baik areal konsesi maupun areal sekitar, masukan semua stakehoder mendukung penuh yang berbuah hasil manis selesainya laporan studi di hutan lindung tanjung Pulisan serta bantuan konsultan kami yakni PT. Hatfield Indonesia.

Di kesempatan yang sama, General Manager/Operasional Direktur PT MSM Terry Holohan mengakui, perusahaannya tetap mengindahkan berbagai aturan termasuk kelestarian alam seperti yang dimaksud. Kata Holohan, saat ini perusahaan sedang melakukan penelitian di kawasan hutan lindung Tanjung Pulisan, Likupang Timur.

“Jarak perusahaan dan kawasan hutan lindung tersebut sekira 10 kilometer (km). Tim peneliti mendapat gambaran serta hasil jika populasi Yaki (Macaca Nigra) mulai berkurang. Ini tentu harus diperhatikan, dan kami mengajak warga setempat untuk terlibat bersama upaya konservasi tersebut,”jelasnya.

Selain itu, Holohan menyampaikan pihaknya juga memperhatikan soal kehidupan flora dan fauna lainnya, serta kelestarian hutan itu sendiri. Katanya, warga sekitarnya juga diberikan bantuan, seperti pendidikan dan kesehatan.

“Kami sudah mengirim sekira 30 warga untuk studi ke Cina. Pembangunan infrastruktur menjadi perhatian juga, karena mengingat lokasi di Tanjung Pulisan sangat baik dikembangkan sebagai destinasi wisata alam. Kami sangat berharap, masyarakat dapat berprastisipasi bersama untuk mendongkrak program pemerintah mengembangkan pariwisata di Bumi Nyiur Melambai,” tandasnya.

Turut hadir, Dinas Kehutanan Sulut, Balai Konservasi SDA Sulut, Unsur Pemerintah Setempat dan Keatan Likupang Timur, Hukum Tua Kinunang dan Tanjung Pulisan, LSM, Yayasan yang Peduli terhadap Lingkungan Satwa Liar, Resort, PT. Halfied Indonesia, Media, serta Internal PT. MSM- TTN. (tim/sulutonline).