Wagub Kandouw: Kain Tradisional Menguatkan Persatuan Kita

Wagub Kandouw saat didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Dr Fredrik Rotinsulu dalam Focus Group Discussion kain tradisionalWagub Kandouw saat didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Dr Fredrik Rotinsulu dalam Focus Group Discussion kain tradisional

Manado-Daerah Nyiur Melambai Sulawesi Utara memiliki ragam kebudayaan. Satu diantaranya adalah kain tradisional. Melalui motif di kain tradisional keberagaman dapat dipersatukan. Berangkat dari latar belakang inilah, Dinas Kebudayaan Sulut menggelar kegiatan Focus Grup Discussion di hotel Gran Puri, Kamis (16/02/2017) pagi.

Acara yang dibuka Wakil Gubernur Drs Steven OE Kandow ini bertujuan membahas motif desain kain Sulawesi Utara yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat. Sulawesi Utara memang dikenal sebagai provinsi yang memiliki kekayaan corak kain yang beragam. Setiap daerah memiliki corak berbeda. Seperti kain Bentenan dari Minahasa dan Kinatola dari Bolaang Mongondow.

Setiap kain bak lukisan yang memiliki cerita, ciri khas dan pesan yang ingin disampaikan pembuatnya pada orang-orang. Kain-kain ini juga sangat beragam dan mewakili daerah asalnya. Jika dulu kain tradisional dinilai kuno dan ketinggalan zaman, kini citra kain tradisional akan dibuat sebagai identitas warga Sulawesi Utara.
Focus Grup Discussion kain tradisional Sulut diharapkan jadi perekat dan persatuan
"Pertemuan ini harus menghasilkan kesepakatan. Kita harus bisa sepakat menentukan motif kain Sulawesi Utara. Ini akan menguatkan jati diri dan persatuan kita,"tegas Wagub Kandouw, seraya menambahkan semua itu untuk mencegah kesalahan penentuan corak kain yang bisa berujung keberatan dari sebagian masyarakat daerah lainnya di Sulawesi Utara.

Melalui Focus Grup Discussion ini juga, Steven Kandouw ingin mengajak masyarakat Sulawesi Utara untuk mencintai daerahnya melalui kain tradisional."Motif kain yang kita sepakati nantinya akan digunakan dalam berbagai kegiatan. Tak hanya sekedar di kantor namun juga di sekolah," ujarnya.

Wagub Kandouw juga berharap, agar masyarakat tidak lagi canggung untuk memakai kain tradisional kita. Sebaliknya kebanggaan timbul saat menggunakannya sebagai pakaian."Semua masyarakat kabupaten dan kota di Sulut akan bangga menggunakannya. Kain yang motifnya diterima oleh semua masyarakat," ucap ayah tiga anak ini.

Budayawan Reiner Ointoe dalam pertemuan itu mengatakan, identifikasi latar belakang kain di Sulawesi Utara yang beragam menjadi pintu masuk pencapaian motif desain kain yang nantinya digunakan. "Kita harus mengetahui motif-motif desain kain dahulu dan perkembangannya hingga sekarang," ujar Reiner.

Budayawan Alex Ulaan menyebutkan tentang koleksi kain tradisional yang tersimpan di luar negeri. "Kain tradisional kita malah disimpan di Leiden. Saya sudah melihatnya langsung di sana," ucap Alex sambil menyebutkan nama Museum Leiden di Belanda.

Kegiatan Focus Grup Discussion ini juga diharapkan Kepala Dinas Kebudayaan Dr Fredrik Rotinsulu dapat bermanfaat bagi kebudayaan Sulawesi Utara. "Acara ini diharapkan berjalan lancar dan menghasilkan manfaat bagi kebudayaan kita," pungkas Fredrik. (tim/sulutonline)