Bangsa Indonesia Masih Tetap Berdiri Teguh Karena Eksistensi Pancasila

Suasana diolog terbuka dan buka puasa bersama yang di selenggarakan di Wale Kopi SamratSuasana diolog terbuka dan buka puasa bersama yang di selenggarakan di Wale Kopi Samrat

Manado-Saat bangsa Indonesia giat memberantas paham deradikalisasi dan radikalisme, maka tokoh-tokoh pemuda dan ormas, tokoh adat dan LSM yang ada di Sulawesi Utara melakukan diolog terbuka dan buka puasa bersama yang di selenggarakan di Wale Kopi Samrat Jumat (23/06/2017 ) sore.

Gubernur Olly Dondokambey SE yang diwakili Kaban Kesbangpol Sulut, menyebutkan, ketika Republik Indonesia di proklamasikan pasca perang dunia kedua, dunia di cekam oleh pertentangan idiologi kapitalis dengan idiologi komunisme.

“Pertentangan idiologi ini telah menimbulkan dampak destruktif di seluruh dunia. Namun para pendiri negara ini mampu melepaskan diri dari terikan-tarikan dua kutub idiologi dunia tersebut, dengan merumuskan pandangan dasar (philosophische grondslag) pada sebuah konsep filosofis yang bernama Pancasila, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, bahkan bisa berperan sebagai penjaga keseimbangan (margin of appreciation) antara dua idiologi yang bertentangan pada waktu itu, karena dalam idiologi pancasila hak-hak individu dan masyarakat diakui secara proporsional,”terang Gubernur.

Seiring dengan perkembangan jaman di beberapa belahan dunia kembali dilanda dengan pertentangan dengan dimensi yang berbeda bahkan lebih luas lagi, yakini oleh pertentangan terkait suku, agama, ras idiologi serta golongan bahkan pilihan politik.”Namun patut di syukuri, bangsa ini masih tetap berdiri teguh karena eksistensi pancasila,”jelasnya.

Disisi lain, pengalaman sejarah kehidupan berbangsa indonesia sendiri juga telah mengajarkan kepada kita, bahwa pengabaian dan penghianatan terhadap pancasila bisa membawa berbagai masalah, keterpurukan penderitaan dan perpecahan dalam kehidupan kebangsaan. sehingga antisipasi terhadap hadirnya individu -individu, atau kelompok masyarakat yang meragukan validitas idiologi pancasila, bahkan berobsesi ingin menggantikan pancasila dengan idiologi lain, terlebih melalui cara-cara kekerasan seperti tindakan terorisme dan gerakan separatisme, dan radikalisme haruslah kita solusikan bersama.

Dalam konteks itulah, sehingga di selanggarakan dialog terbuka dengan "Pancasila, Deradikalisasi dan Radikalisme" saat ini dipandang sangat tepat sehingga harus disukseskan bersama. mengingat isu-isu terkait radikalisme dan terorisme akhir-akhir ini menjadi topik di berbagai belahan dunia, termasuk di negara tetangga kita Philipina, yang sejak beberapa waktu lalu telah terjadi kontak senjata terbuka antar pemerintah dan kelompok maute yang telah berafiliasi dengan kelompok ISIS.

“Oleh karena itu, Saya menghimbau, kepada narasumber dan peserta diolog di harapkan untuk mampu memanfaatkan waktu yang terbatas ini sebagai wahana komunikasi efektif lewat diskusi yang sehat dan saling membangun, juga perlu kembali upaya-upaya reprensif seperti penguatan pertahanan dan keamanan serta ketertiban di masyarakat lewat upaya prefentif dan pembudayaan kembali nilai-nilai Pancasila di tengah-tengah masyarakat untuk menjadi solusi jangka panjang yang harus kita aktualisasikan dan perjuangan bersama,”ingatnya.

Dalam acara dialog terbuka ini yang menjadi narasumber DR Dr Taufiq Pasiak, DR Hendrik Manossoh, KH Ulyas Taha serta di hadiri oleh Ketua- Ketua Ormas Adat, Tokoh Agama, LSM Tokoh Pemuda TNI dan POLRI yang ada di Sulawesi Utara.( tim/sulutonline )