Paskah di Tengah Wabah Covid-19, Tetap Percaya Kuasa KebangkitanNya


Ketika Coronavirus Disease (Covid-19) membalut dunia ini, konsentrasi umat Kristiani di dalam memaknai Minggu Adventus, Jumat Agung dan perayaan Paskah dengan segudang rencana menjadi buyar dan beralih fokus pada rentetan peristiwa Covid-19 yang signifikan mewabah dan banyak merengut korban jiwa, menjadikan topic tranding yang sangatlah menggemaskan dan dunia berduka.

Tentunya hal ini harus disikapi secara bijak menangkal diri dan wajib patuh pada aturan yang diberlakukan oleh pemerintah yang adalah wakil Allah bagi rakyatnya demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19 bahkan saat ini dianjurkan untuk juga waspada terhadap DBD.

Begitulah kita manusia yang hanya mengira-ngirai jalan Tuhanlah yang menentukan dan ketika kita merencanakan sesuatu jangan lupa untuk melibatkanNya bahkan diajarkan untuk menggunakan kata kalau Tuhan berkenan.

Hari Raya Paskah akan dirayakan oleh Umat beragama Kristen dan Katholik sebagai hari raya besar keagamaan dan tahun ini perayaannya sangatlah berbeda karena dengan adanya penyebaran Covid-19 mengakibatkan semua kegiatan mentradisi termasuk kegiatan yang disakralkan tidak dapat dilaksanakan.

Demikia juga dengan kegiatn pemuda yang setiap tahunnya mengadakan pawai sebagai refleksi iman harus terhenti. Dan mengharuskan kita merayakan dan beribadah Paskah bersama keluarga di rumah saja.

Dan pasti sebagai umat Kristiani dan umat lainnya, tidak pernah terbayangkan menjadi seperti ini. Di sini iman kita diuji dan harus mampu menyangkal diri, pasrah, meyakini dan mengimani serta mengamini bahwa ini adalah rencana dan kehendak Tuhan, yang mau menyadarkan kita semua Tuhan itu ada dan berkuasa atas langit dan bumi serta segala isi ciptaanNya.

Menjadi cerminan bagi kita ketika di beri kesempatan dan kebebasan untuk saling kunjung mengunjungi, bekerja, beribadah dan berdoa lakukanlah.

Karena ketika dirumahkan seperti ini, semuanya menjadi serba terbatas, terasa aneh tetapi nyata. Itulah yang terjadi, karena sesungguhnya pikiran manusia tak dapat melampaui pikiran Allah yang tidak terbatas.

Belajar dari semua itu, sadar bahwa hidup ini adalah rahasia dan hanyalah sementara karena itu janganlah sia-siakan waktu dan kesempatan karena besok tak seorangpun tahu apa yang akan terjadi.

Di tengah kegalauan hati, tiada kepastian kapan berakhirnya Covid-19 ini, yang semakin meresahkan tapi kita diberi hikmat untuk tetap jaga diri, jaga hati, jaga jarak dan jaga komunikasi lewat medsos.

Dari sini terasa ada solidaritas, ada kepedulian, tidak melihat dari mana, siapa dia, agama apa, semua saling membantu, menyatu, terjadi interaksi, dalam membagi cerita, membagi pengalaman, menghibur, memberikan tips-tips penangkal dan ada penguatan share ayat-firman, bahkan ada doa-doa yang dipanjatkan dan puji-pujian menggema menjadi tanda kita masih dalam kendali Tuhan.

Untuk itu jangan takut dan gentar, karena apa yang kutakutkan itulah yang menimpa aku, dan apa yang ku cemaskan itulah yang mendatangi aku, aku tidak mendapat ketenangan dan ketentraman, aku tidak mendapat istirahat tetapi kegelisahanlah yang timbul.

Kuncinya, di tengah kekalutan hati, hendaknya lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Jangan keraskan hati, jangan menjauh dariNya tetap pegang erat firman karena firmanlah yang akan menguatkan kita semua seperti demikian “Anak-anakKu hal ini kutuliskan padamu supaya kamu jangan berbuat dosa, kita mempunyai seorang perantara kepada Bapa yaitu Yesus Kristus yang adil dan Ia adalah pendamai untuk segala dosa kita dan bukan hanya dosa kita saja, tapi juga untuk dosa seluruh Dunia”.

Berbalik kepada Tuhan, siapkan waktu bagiNya, sebab Dialah yang telah menerkam dan akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita Ia akan menghidupkan kita dan akan membangkitkan kita dan kita tetap hidup di Hadapan Nya.

Sehingga kita masih punya waktu untuk lebih mengenal dan berusaha sungguh mengenal Tuhan, karena Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir Musim yang mengairi bumi, kata firman.

Marilah sambil tertunduk, kita mengangkat hati, mensyukuri semua berkat Tuhan karena kita semua masih diberi waktu, nafas hidup dan kesehatan.

Nantinya, pada Jumat (10/04/2020) semua umat memperingati Jumat Agung sekaligus dengan Perjamuan Kudus dan Minggu (12/04/2020) akan beribadah Paskah dan kalau Tuhan berkenan kita semua akan merayakannya bersama keluarga, secara sederhana di rumah. Walaupun di rumah saja, tapi hati kita tetap terpaut padaNya. Yakin Dia hadir bersama kita dan akan Besar KuasaNya.

Agar ada sukacita, bahagia dan damai, diingatkan untuk selalu rekonsiliasi batin dengan Allah, menyambung benang-benang yang telah putus dengan sesama, dan rekatkan kembali tali persaudaraan yang telah longgar.

Jadikanlah Paskah sebagai moment penyatuan diri untuk bersama-sama mampu membagi kasih, membagi berkat dan membagi rejeki tidak terbatas tapi bagi semua yang membutuhkannya.

Berempatilah dan jangan melupakan doa bagi Sulawesi Utara, Indonesia dan dunia. Terlebih khusus bagi Pemprov Sulut Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw serta jajaran, pemkot dan pemkab, gugus tugas dan para medis juga bagi pelayan Tuhan.

Bersorak sorailah karena Yesus Kristus Sang Juru Selamat dan penebus dosa umat manusia telah bangkit dan menang untuk menyelamatkan dan menebus dosa umat manusia dan akan datang kembali sebagai hakim yang adil, seadil-adilNya.

Penggalan lagu, sbab Dia hidup ada hari esok, sbab Dia hidup ku tak gentar, karena ku tahu Dia pegang hari esok, kubur kosong membuktikan sbab Dia hidup.

Yakinlah walaupun berjarak fisik tapi Tuhan selalu mempersatukan kita dalam satu iman, harap, percaya padaNya.

Kita tidak berjabat tangan, tetap ada salam sehat, ada ungkapan syukur, ada rasa sukacita iman, dan ada ucapan Selamat Merayakan Hari Raya Paskah kepada saudara, orang tua, kakak adik, rekan sekerja, sahabat, kerabat dan sobat, kenalan, jemaat serta masyarakat bahkan semua yang merayakannya .

Haleluyah….God Bless
Stay at home
Jangan lupa jaga jarak, jaga kesehatan dan cuci tangan dengan sabun.(*)
Penulis, Ivonne R.J Kawatu

Telah dibaca: 433

Budi Rarumangkay

Berita sejenis