Progres Bendungan Lolak 97 Persen, Ganti Rugi Hutan Produksi Segera Dilakukan Tim Terpadu

IMG_2632.jpeg

MANADO-Tanah hutan lindung produksi terbatas sekitar 67 hektare di lokasi Bendungan Lolak, Kabupaten Bolmong akan segera dilakukan ganti rugi.

Hal ini terungkap dalam Rakor Hasil Pendataan dan Appraisal, serta Hasil Review BPKP atas Proses Penanganan Dampak Sosial lahan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Bendungan Lolak, di Ruang F.J. Tumbelaka Kantor Gubernur Sulut, Senin (24/07/2023).

Dipimpin Sekprov Sulut Steve Kepel didampingi Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi I,  I Komang Sudana, Imanuel Makahanap SH MH sebagai Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setda Pemprov Sulut dan dihadiri tim terpadu.

Sekprov mengatakan pelaksanaan rapat ini sudah dimulai sejak pembentuk tim terpadu dan pembentukan satuan tugas dalam mendata dan memvalidasi lahan yang digunakan sebagai bagian Bendungan Lolak.

“Berdasarkan pendataan dan validasi dilakukan pengumuman, dan sudah dilakukan sebanyak dua kali. Karenakan ada keberatan dan sanggahan dari pemilik lahan, maka pengumuman dilakukan secara luas bukan cuma di balai desa, tapi diumumkan lewat surat kabar.

“Sesudah diumumkan dan tidak ada keberatan kemudian dinilai oleh Appraisal dan hasil ini direview oleh BPKP berapa nilai yang harus diganti untung kepada masyarakat sebanyak 5,3 miliar. Kemudian keluar review dikirim ke tim terpadu,” katanya.

Lanjutnya, kemudian dilakukan musyawara untuk menentukan jenis ganti rugi. Apabila ada masyarakat belum menerima  ganti rugi maka akan dilakukan penitipan di pengadilan.

“Proses ini akan kita lakukan segera, satunannya akan diberikan maksimal 12 hari kerja setelah keluar SK dari gubernur Sulut untuk proses pemberian satunan pembayaran ganti rugi bagi masyarakat terdampak Bendungan Lolak,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi I,  I Komang Sudana mengatakan, dari sisi pekerjaan progres bendungan Lolak sudah 97 persen.

“Permasalahannya bendungan itu belum kita bisa digenangan air. Tapi dari segi struktur dan bendungan sudah siap. Sehingga kalau kita bangun bendungan arahan Pak Menteri tidak cukup hanya setengah struktural, tapi ada penataan kawasan dan penghijauan,” ungkapnya.

Menurutnya, yang menjadi permasalahan sekarang dari 384 hektare lahan, dibagi tiga. Yaitu milik masyarakat, tanah hutan  produksi terbatas dan hutan lindung.

“Yang menjadi permasalahan yaitu tanah hutan lindung produksi terbatas sekitar 67 hektare. Pembebasan lahan ini menunggu SK, kalau sudah keluar SK kemudian kita akan buat musyawara untuk menentukan ganti rugi nama orangnya dan bidangnya,” ungkapnya.

Menurutnya, kalau pun ada keberatan warga silakan saja. Kalau setuju kita bayarkan dan tidak setuju kita titipkan dipengadilan. “Kalau sudah dititipkan di pengadilan barangnya menjadi milik negara,” pungkasnya, seraya menambahkan
Bendungan Lolak nantinya akan dimanfaatkan untuk pengendalian banjir, kemudian irigasi 2400 hektare, air baku 500 liter per detik , PLTN dan kawasan wisata buah.(*/ SulutOnline )

Telah dibaca: 347

Sulut Online

Berita sejenis